Hai hai! Pakabs niy? Gapapa ya meskipun filmnya udah lewat beberapa bulan lalu, tapi gue pengen banget bicarain ini di sini.

1
Ya posternya aja. Banyak versi cuma ngambil yang ini aja. Sumber: IMDB

Alasan awal gue nonton ini adalah karena kekuatan netizen dan online media (mostly reviewer) yang menilai positif karya Jordan Peele ini. And luckily, ternyata XXI nayangin film ini. Awalnya midnight dan akhirnya tayang reguler. Pas gue nonton, penonton di satu studio bisa diitung jari 😦 Gak heran waktu temen gue ngecek mau nonton minggu berikutnya, ternyata udah gak tayang lagi.

The most appealing review, of course the perfect score (at the time, well now it is still 99%) given by Rotten Tomatoes, website who sparks controversy with filmmaker lately. Pada awalnya, “kitab” gue dalam mencari tahu seluk beluk dunia perfilman dan layar lainnya bukanlah RT, tapi IMDB. Tapi makin kemari gue gak bisa resist buat lihat RT karena kontroversinya itu. Ya walaupun jauh sebelum itu, RT terkenal suka ngasih review kejam.

Oke, Get Out. Setelah nonton, emang gak ada lagi yang bisa ngewakilin premis besar film ini kecuali judulnya itu. Chris, seorang fotografer kulit hitam dan pacar kulit putihnya, Rose berencana untuk mengunjungi orang tua Rose di rumahnya di daerah antah berantah jauh lah pokonya.

6.jpg

Kalau lo sering terpapar feeds media online di Facebook atau Twitter mungkin akan sedikit ngerti tentang racial abuse yang terjadi di US terhadap orang-orang kulit hitam. Bukan saja hate speech, bahkan sampai pembunuhan. Jadi, wajar kalau sebelum pergi, Chris akhirnya nanya lagi ke Rose “Monmaap, apa ibu bapak Anda tahu bahwa pacar anaknya adalah kulit hitam?”

Wih, dengan lantang dan meyakinkannya, Rose jawab “Mereka bakalan milih Obama yang ketiga kalinya kalau itu mungkin.” Oke, semua beres dan berangkatlah mereka.

Sampai di sana, Chris merasakan beberapa kejanggalan, mulai dari tingkah laku asisten rumah tangga dan tukang kebunnya yang mencurigakan (juga sama-sama kulit hitam), sampai perilaku orang kulit hitam lain yang berada dalam pesta saudara-saudara Rose yang semuanya kulit putih.

And it turns out, Chris’ doubt was proved.

Okey, tetesan spoiler akan dimulai dari sini.

I had never watched Jordan Peele’s movies before, neither as an actor, director, or writer. But it had been my jaw dropping moment watching this.

Labirin Metafora dan Realita

Waktu gue baca review, gue tahu bahwa film ini bercerita tentang isu rasisme di Amerika Serikat yang sampai saat ini–bukannya berkurang seiring terbukanya pikiran–terus mengisi konten media online sana.

Okey, so lets watch then.

Dan bagus banget 😦 mau nangis 😦

2
kumpul santai aja. Sumber: IMDB

Awalnya gue gak berharap macam-macam dengan Get Out. Tapi abis nonton langsung keheran gue Jordan Peele ini makan apa pas nulis ceritanya.

Isu rasisme, tanpa kita harus nyatakan secara eksplisit, adalah isu yang besar. Sangat besar. Buat gue, apapun yang sifatnya nature, bukan jadi alasan buat kita fighting satu sama lain. Dan konflik yang muncul karena perbedaan ras adalah hal yang konyol. Apalagi sampai bisa menghilangkan nyawa gara-gara beda warna kulit atau bola mata doang. So yes, it is a big issue.

Dalam lika-liku Chris menemukan dan membuktikan kejanggalan-kejanggalan yang dapat membahayakan hidupnya di rumah Rose, gue menjalani aktivitas neuron yang hebat waktu nyadar kalau gue sedang diaduk-aduk antara realita dan metafora.

Kalau lo inget, waktu pertama kalinya Chris dihipnotis ibunya Rose, gue merasa sedang disuapin makanan enak sampe kenyang. Gue adalah penggemar plot psikologis, mulai dari yang keliatannya gak mungkin sampe yang bener-bener bisa terjadi. Menenggelamnkan jiwa dan kesadaran Chris dalam abstraksi sunken place adalah visual cerdas yang pernah gue lihat.

Tapi sebelumnya, kita disuguhkan dengan realita yang gak kalah menakutkannya: Chris’ ID checking even though he wasn’t driving. Sebagai pelanggan video-video pendek media online di Facebook, gue jadi terpapar isu-isu rasisme, terutama kampanye #BlackLivesMatter. Random ID checking terhadap orang kulit hitam itu seperti sudah “lumrah” karena keseringan terjadi. Yes, the fear is real, not a metaphor nor threat.

Laughing at Someone’s Critical Condition is Possible

We cannot survive this movie without Rod’s punchlines. As my eyes enjoyed watching this, Rod is not only a comic relief, but he is a best sidekick one could have. Through Rod dialogues, we can see through Peele’s other mind: a funny, eccentric, and paradoxical thought.

4
Kocaque-sentris film ini. Sumber: IMDB

Rod is we all are to our best friend. We can yell, advise, warn, and giving careless unproven prejudice simultaneously when we are in need of emergency relief. I bet we all laugh when Rod was giving warning to panic Chris with saying that the balck people Chris saw at the house is actually missing.

Or we laugh at his joke about sex slave and other possibility of harmful action white people tends to do to black people. We laughed and we are alright with it. We know it will be alright when it is actually not.

Started in the Mind, The War Has to be Ended in Real Blood

3
Bapak emaknya Rose. Bapak dokter bedah, emak dokter jiwa. Sumber: IMDB

Have ever heard that psychological disorder can lead to physiology harm? Let it be suicide, hate crime, or another form of self-destruction. In cinematic universe, where we can make imagination into second degree reality, Peele make everything’s clear.

From racism, hypnosis, and prejudice, Peele brings us to a outer reality: our body. After all oddities, Chris has to face another level of problem: danger of his existence’s removal.

Chris was tied to the chair in the basement. Prepared for soul or brain or body changing with his highest bidder. Although he knew the best ending is not making one party win, Peele doesn’t let us drown to bitter ending. Chris finds a way how to stop being hypnotized by a goddamn ceramic cup and stainless spoon sound.

Unapologetically, he knows what to do (in half consciousness after drugged and hypnotized several times). The quiet and peaceful house turns into battle royal scene.

—–

Eventually, even though I am beyond satisfied from what I enjoyed in an hour and half, Get Out left me questioning somethings from its scenes. I cannot clearly describe what they are, but I’m having trouble in distinguishing what is real and what is not. Or anything in between (if that’s possible).

Even so, I don’t find any missing links of its metaphors and reality portrayal. It feels so magical knowing you are stoked and confused concurrently. While I’m searching whatever screen products that are contained Peele, I cannot wait next movies he will direct because this debut has set his bar too high. You better work, Jordan!

7.jpg
Maestro. Sumber: IMDB juga. Semuanya IMDB.com lah

 

 

 

Iklan